jump to navigation

Lomba TUB & BB SMA/SMK/MA Tingkat Kota Magelang Tahun 2008 17 Februari 2008

Posted by ai susanto in Kepemudaan, OSIS, Paskibra(ka).
add a comment

Tahun ini saya dan adik-adik PPI kembali dipercaya sebagai panitia pelaksana Lomba Tata Upacara Bendera dan Baris Berbaris SMA/SMK/MA Tingkat Kota Magelang. Tidak hanya sebagai panitia pelaksana, kami juga diminta me-monitoring latihan dari peserta lomba.

Selama 3 kali dipercaya dalam mengelola dan melaksanakan lomba TUB dan BB di Kota Magelang, baik Tingkat SMP maupun SMA kami selalu menjunjung tinggi profesionalitas, netralitas dan obyektivitas sebagai panitia pelaksana. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak kami untuk berpihak dan/atau memihak kepada salah satu tim. Misi kami dalam melaksanakan lomba ini adalah demi peningkatkan kualitas kegiatan tersebut di Kota Magelang. Jadi siapapun pemenang dari lomba adalah murni penilaian dari dewan juri yang dipilih secara selektif, profesional dan memiliki kemampuan yang memadai dalam bidangnya. Sehingga penilaian yang diberikan benar-benar obyektif, reliabel dan valid.

Pun demikian dalam program monitoring yang kami laksanakan pada lomba kali ini. Tim monitoring ditunjuk oleh tim, berdasarkan kemampuan dan tanggung jawab dari person tersebut. Selain itu kepada person yang ditunjuk menjadi petugas monitoring juga tidak diperbolehkan melatih dan memonitoring sekolah sendiri, meskipun sudah alumni.

***
(lebih…)

Latihan Kepemimpinan PPI Kota Magelang 5 Januari 2008

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
add a comment

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 Desember 2007  s.d.  1 Januari 2008 PPI Kota Magelang menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan.

Panduan Upacara Bendera di Sekolah 14 Desember 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
1 comment so far

Berdasarkan surat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah; Panduan Upacara Bendera yang digunakan di sekolah-sekolah adalah “Pedoman Pelaksanaan Upacara Bendera di Sekolah Tahun 1997″ yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Selain itu, pembina upacara di sekolah adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah atau guru. Untuk pejabat di luar sekolah yang berkenan untuk menjadi pembina upacara maka diatur dalam acara tersendiri atau dalam acara tambahan.

Untuk lebih jelasnya, surat bisa diunduh

Surat dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah tentang Upacara Bendera

Kadiknas Kediri Minta Siswa MAN 3 Mundur Jika Tolak Lepas Jilbab 29 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
1 comment so far

Detik.com
02/05/2007 15:56 WIB

Kadiknas Kediri Minta Siswa MAN 3 Mundur Jika Tolak Lepas Jilbab
Angga Gunawan – detikcom

Kediri – Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Maki Ali mengakui telah meminta lima siswi Madrasah Aliyah Negeri 3 Kota Kediri untuk melepaskan jilbab saat mengikuti seleksi Paskibra dengan alasan keseragaman.

Maki Ali menjelaskan, ketentuan melepaskan jilbab tersebut sudah menjadi ketentuan yang ditetapkan panitia penjaringan pusat. Hal itu untuk menjaga keseragaman penampilan para peserta Paskibra yang akan mengawal bendera merah putih dalam peringatan HUT ke-62 RI.

“Bagaimana lagi wong aturannya demikian. Pelepasan jilbab itu untuk menjaga keseragaman penampilan pasukan pengawal bendera,” ujar Maki Ali kepada detikcom melalui telepon, Rabu (2 /5 /2007).

Sementara terkait pengangkatan rok panjang yang dikenakan 5 siswi MAN 3 Kediri, Maki Ali mengatakan bahwa tindakan itu wajar untuk mengetahui bentuk kaki seseorang. Sebab tanpa membuka penutup kaki hingga di atas lutut, panitia tidak akan mengetahui apakah kaki calon peserta Paskibra berbentuk O atau X.

“Coba Anda logika, bagaimana kami bisa mengetahui bentuk kaki seseorang kalau tidak membukanya. Tidak lucu kan kalau peserta baris kakinya O atau X,” ujar Maki Ali.
(lebih…)

Jilbab Siswi Dicopot, Seleksi Paskibra di Kediri Menuai Protes 29 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
4 comments

Detik.com
Rabu, 02 Mei 2007, 16:43 WIB

Jilbab Siswi Dicopot, Seleksi Paskibra di Kediri Menuai Protes
[Angga Gunawan - detikcom]

Kediri – Calon anggota Paskibra Kota Kediri dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 diminta melepas jilbab dan mengangkat rok oleh panitia penjaringan dari Diknas Kota Kediri. Kejadian itu langsung disambut protes keras.

Informasi yang dihimpun, peristiwa yang dianggap melecehkan ini terjadi ketika 5 siswi MAN 3 Kota Kediri mengikuti seleksi penerimaan anggota Paskibra di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jl Mayjen Sungkono, Kota Kediri, pada 25-26 April 2007.
Saat itu, panitia seleksi dari Diknas Kota Kediri meminta 5 siswi tersebut melepas jilbab dan mengangkat rok panjang yang mereka kenakan.
(lebih…)

Seleksi Calon Paskibra Kota Salatiga 28 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
2 comments

SUARA MERDEKA – Jumat, 25 Mei 2007

Seleksi Calon Paskibra

SALATIGA- Menjelang Peringatan HUT Ke-62 RI, Pemerintah Kota Salatiga jauh hari sudah mempersiapkan calon Paskibra baru. Sebanyak 240 siswa terbaik dari SMA/K/MA seluruh Salatiga mengikuti seleksi calon Paskibra kota di kompleks Kridanggo Kota Salatiga. Seleksi yang berlangsung 22-24 Mei tersebut, mengambil 80 siswa-siswi terbaik yang nantinya bertugas sebagai pasukan pengibar bendera.

Menurut A Roni Yulianto, Wakil Ketua Purna Paskibra Indonesia (PPI), seleksi berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Kodim 0714 dan PPI.

Dalam penyeleksian itu dibagi menjadi tiga tahapan. Pada hari pertama, seleksi dilakukan Dinas Pendidikan yang meliputi tes kesehatan dan administratif. Peserta yang ikut dibatasi kelas satu SMA/K/MA atau kelas 10 saja. Sedangkan tinggi badan, untuk putra dibatasi 165-175 cm dan 160- 170 cm untuk putri. Berat dan postur tubuh pun harus ideal.

Pada hari kedua diadakan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) oleh Kodim 0714 kota Salatiga guna melihat kemampuan baris-berbaris peserta. Untuk memudahkan penyeleksian PBB, peserta dibagi empat kelompok putri dan delapan kelompok putra. Masing-masing kelompok terdiri dari 20-24 siswa.

Empat Siswa

Setelah melalui seleksi tersebut, peserta yang lolos akan mengikuti tes akhir yaitu tes akhlak dan kepribadian, dimana pada tes ini akan diambil 80 siswa siswi terbaik yang akan menjadi Paskibra baru di kota Salatiga. Dari 80 siswa terbaik itu, nantinya akan diambil empat siswa lagi untuk mengikuti seleksi Paskibra di tingkat provinsi.

”Peserta yang lolos seleksi, nantinya akan mengikuti latihan secara intensif sekitar akhir Juli sampai dengan pertengahan Agustus,” kata Robby Lilipaly, Ketua PPI Kota Salatiga.

Selama latihan, mereka akan mendapatkan fasilitas dari pemerintah kota Salatiga berupa seragam latihan, sepatu, topi serta emblem. Mereka nantinya juga dibagi lagi menjadi pasukan 17 , pasukan 8 dan pasukan 45 . Khusus untuk pasukan delapan yang membawa bendera, mereka dibagi menjadi dua shift untuk tugas pagi dan sore. Selain itu, ada 10 siswa cadangan untuk menggantikan siswa lain yang berhalangan.
(J12-16)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Putri Jadi Anggota Paskibraka MAGELANG 27 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
1 comment so far

SUARA MERDEKA
FOKUS – Selasa, 29 Juni 2003

Putri Jadi Anggota Paskibraka MAGELANG – Putri Agung Maharani, siswa kelas II SMU Tarakanita Kota Magelang, terpilih mewakili Provinsi Jateng menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada peringatan HUT Ke-58 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka Jakarta, 17 Agustus 2003 mendatang. Terpilihnya anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Andi Hermanto dan Yustina Titin, setelah mengalahkan beberapa siswa terbaik tingkat Jateng. Seleksi dilaksanakan sejak Maret lalu. “Ini surprise bagi saya. Dengan menjadi duta Jateng di tingkat nasional saya merasa bangga karena dapat membawa nama harum Kota Magelang dan Jateng,” ujar dia. Dia telah menyiapkan diri baik mental maupun fisik. Persiapan lain memperdalam tembang Jawa “dhandhang gula dan geguritan (puisi bahasa Jawa).(P60-42)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

PPM = Peraturan Penghormatan Militer 15 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
5 comments

PPM = Peraturan Penghormatan Militer

Paskibraka sebagai Pandu Ibu Pertiwi yang berjiwa
merah putih selalu bersikap kesatria. Sikap dan
tingkah lakunya lemah lembut namun mengandung
ketegasan. Nada bicara dan candanya selalu melihat
situasi dan kondisi sekelilingnya. Sebagai tanda cinta
cita rasa manusia beradab dan berbudaya tinggi, dari
hati sanubarinya yang paling dalam selalu terungkap
ucapan “salomkasih” (salam, tolong, maaf,
terimakasih).
Seorang paskibraka yang penuh cinta kasih akan selalu
berpikir positip dan berani untuk menyapa, dia akan
selalu menyapa terlebih dahulu dan tidak akan menunggu
untuk disapa oleh semua orang yang ditemuinya, baik
orang tua, kakak, adik, saudara-saudaranya, atasan,
bawahan dan teman-teman yang lain. Dengan penuh kasih
sayang dia akan bersuka cita menyapa dan menunjukkan
empati kepada semua orang, perhatian penuh kasih
sayang akan tercermin dalam tingkah laku, sikap dan
perbuatannya, tutur katanya lembut, suaranya
memancarkan suka cita suara hati yang yang bahagia,
senyum tulus akan menghiasi bibir dan hatinya sehingga
saat berbicara akan terdengar nada yang sangat ramah
tanpa kesan dibuat-buat. Saat bertemu ia akan
mengucapkan “salam”, salam tersebut dapat berupa
ucapan : assalamu’alaikum, selamat pagi, siang atau
malam, apa kabar dan sebagainya dengan nada suka cita
dan ketulusan. Ucapan salam bisa diteruskan dengan
suatu uluran tangan untuk berjabat tangan,. Jabat
tangan kepada orang yang kita beri salam dengan penuh
kehangatan dan kasih sayang akan mengalirkan
kebahagiaan dan kedamaian bagi semua orang yang kita
beri salam.
Dalam suatu latihan calon Paskibraka para pelatihnya
bisa dari unsur militer maupun dari sipil yaitu para
purna paskibraka yang bergabung di PPI. Dalam latihan
semua pelatih akan menerapkan unsur ketegasan dalam
memberikan aba-aba atau perintah untuk menumbuhkan
kekompakan dan kedisiplinan. Walau latihan yang
diterapkan mengandung unsur militer karena pelatih
maupun peraturan baris berbaris yang digunakan, namun
anggota Paskibraka tetap orang sipil dan tidak perlu
kaku menerapkan aturan militer dalam kehidupan
sehari-hari. Kita hanya mengambil beberapa ajaran
positip dari militer misalnya : kedisiplinan,
ketegasan dan keberanian untuk mengambil sikap untuk
bela Negara. Paskibraka adalah Sipil dan Bukan
Militer, jadi adalah suatu kesalahan besar jika dalam
pembinaan lanjutan para alumus paskibraka yang
tergabung dalam PPI menerapkan peraturan militer dalam
kehidupan keseharian, misal harus menghormat dengan
mengangkat tangan, sikap senioritas yang berlebihan,
salam komando
yang tidak dipahami maknanya dan lain sebagainya
karena semua itu tidak akan sejalan dengan jiwa
paskibraka yang harus tertanam dalam setiap hati
paskibraka dan purna paskibrakanya.
Dipintu masuk kantor PPI Jakarta Timur tertulis Area
PPM = Area Peraturan Penghormatan Militer, jadi semua
anggota PPI Jakarta Timur harus dan wajib menerapkan
aturan-aturan militer. Benarkah apa yang tertulis
dipintu itu ?
1. Sebagai seorang purna paskibraka yang berjiwa merah
putih marilah kita merenungkan makna dan arti kalimat
itu
2. Masih perlukah kita menerapkan aturan-aturan yang
tidak sejalan jiwa paskibraka dan kita tidak ketahui
maknanya.
3. Jawaban itu ada pada hati kita semua, apakah jiwa
kita benar-benar merah putih.
4. Jika hal itu tidak perlu kita lakukan maka jangan
lakukan, tetapi jika tidak benar dan ada yang
melakukan maka pengurus PPI baik DPP, DPD harus
meluruskannya
5. Jika pengurus PPI tidak bisa meluruskan dan
memperbaikinya maka kita perlu bertanya : Apa guna PPI
maupun paskibrakanya

Selamat merenungkan itu semua

Salam
Mas Bhe

Pesan Pembina 4 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
add a comment

Kak Hussein Mutahar :
Kebutuhan dunia yang terbesar adalah kebutuhan akan manusia… Manusia yang tidak mau dijual, juga tidak mau dibeli. Manusia yang dalam lubuk hatinya ada kebenaran dan kejujuran. Manusia yang tidak takut untuk menyebut dosa dengan kebenaran namanya sendiri. Manusia yang nuraninya teguh terhadap kewajiban seperti patuhnya jarum kompas menunjukkan arah kutub. Manusia yang tegar membela kebenaran meski langit runtuh menimpanya. Namun, watak seperti itu bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan. Bukan kemurahan hati atau imbalan jasa dari orang lain. Watak luhur adalah hasil penataan dan disiplin diri. Hasil dari sikap merendah terhadap kekuasaan alam. Hasil pasrah diri untuk mengabdi kepadaTuhan dan sesama manusia dengan penuh rasa kasih sayang…

Kak Idik Sulaeman :
Karena benda inilah (Sang Merah Putih) kita berkumpul di Desa Bahagia… Saling kenal, saling bercerita, saling cinta dalam satu rasa : Aku Putera Indonesia. Meskipun hanya kenangan saat menjadi anggota Paskibraka, Jiwa dan semangatnya terasa abadi dan lestari, Pertahankan terus dan selalu kobar-kobarkanlah jiwa dan semangat itu!

Kak Dharminto Surapati :
Seorang manusia semakin lama akan semakin tua. Satu demi satu, kami yang tua-tua ini akan pergi dan tak selamanya berada diantara kalian. Jangan biarkan kepergian kami tanpa jejak dan peninggalan. Jadilah sebuah “Roda Gendheng” yang mampu terus berputar dan memutar roda-roda lainnya meski sumber tenaga awalnya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi…

Bunda Bunakim :
Dalam bekerja, kalian harus selalu menjadi kuli-kuli kencang yang tidak punya ”wudhel” (pusar). Yaitu orang yang mampu bekerja keras dan terus mengabdi untuk kepentingan sesama tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Jangan mundur dari apa yang diniatkan. Cita-cita harus tercapai bila kalian sudah terlanjur basah. The show must go on, move forward and never retreat!

DHARMA MULIA PUTERA INDONESIA & IKRAR PUTRA INDONESIA 1 November 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
add a comment

DHARMA MULIA PUTERA INDONESIA

I. Putera Indonesia, adalah makhluk Tuhan Al-Khalik
Yang Maha Esa, dan oleh sebab itu, maka dengan iman
dan ihsan, serta dengan adab ia bertaqwa kepada
Tuhannya.

II. Putera Indonesia adalah makhluk jenis manusia,
oleh sebab ia adalah manusia, maka ia berakhlak selaku
manusia. Pikirannya, perkataannya, dan perbuatannya
terhadap sesama makhluk khususnya sesama umat manusia
digetari oleh getaran rasa kasih sayang dari dalam
lubuk hati nuraninya dan digerakkan oleh daya rasa
keadilan dari budi kemanusiaannya, teristimewa
terhadap sesama Putera Indonesia.

Demikianlah laku dan karya manusia Sang Putera
Indonesia yang dapat dipercaya, beradab, bersila dan
berbudi luhur.

III. Karena darah kelahirannya tumpah di pangkuan Ibu
Pertiwi Indonesia, tumpah di tanah antara air, tumpah
di nusa antara bahari, dan bernafasnya menghirup udara
Indonesia, keperluan hidupnya dicukupi oleh Ibu
Indonesia, maka dengan kepantasan setiap Putera
Indonesia cinta kepada tanah air dan udara yang
diamanatkan oleh Tuhan Penguasa seluruh semesta alam
kepada umat Indonesia dan dengan kepantasan pula
membalas budi kepada ibu-nya. Suka dan rela berkorban
untuk melindunginya, memandunya, sambil berjuang tanpa
putus asa untuk mensejahterakan peri kehidupan Bangsa
Indonesia.

Sebagai putera se-ibu, setiap Putera berkesadaran,
berpandangan, dan bertata cara hidup selaku anggota
satu keluarga persatuan, ialah keluarga PERSATUAN
INDONESIA.

Demikianlah jiwanya : Jiwa Indonesia, pribadinya :
Pribadi Indonesia, perilakunya: Beradat Indonesia,
karya budi dayanya : Karya Budi Daya Indonesia.
Perhatian dan darma bhaktinya berpusat pertama – tama
dan terutama bagi kepentingan Indonesia, bukan
kepentingan lebih dari itu, apalagi kepentingan
dirinya sendiri.

IV. Setiap manusia, juga setiap Putera Indonesia, pada
hakekatnya adalah sama. Sama hak azasinya, sama daulat
pribadinya, sama daulat kerakyatannya. Itulah azas
kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan setiap bangsa di
atas dunia, demi peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Peri kehidupan putera – putera Indonesia dalam suatu
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila, dipimpinkannya kepada hukum
yang mengandung kebijaksanaan sebagai mufakat yang
dicapai oleh wakil-wakilnya dalam permusyawaratan /
perwakilan.

Azas kemerdekaan yang dengan jujur, ditata dan
ditertibkan sedemikian itu, dengan disiplin pula
dipatuhinya dan tanpa putus asa menanggulangi segala
kesukaran dalam menjaga tetap berlakunya
ketatatertiban itu agar Indonesia dan putera puteranya
tetap merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Demikianlah dengan Ridho Tuhan Yang Maha Esa, segenap
Putera Indonesia selaku pandu – pandu ibunya, dengan
watak ksatria, rasa tanggung jawab dan dengan gembira
berjuang bersama – sama untuk mengadakan dan menjaga
adanya masyarakat yang adil, tetapi juga yang makmur
dalam peri kehidupan kebendaan yang dapat untuk
membekali peri kehidupannya di masa sesudah
meninggalkan hidup di dunia ini.

Selangkah demi selangkah, dengan cermat dan tepat,
hemat dan bersahaja, berupayalah segenap Putera
Indonesia, bersama – sama, untuk mewujudkan cita cita
bangsanya, ialah masyarakat Pancasila sebagai
warganya, dalam keadaan yang aman dan sentausa, jaya
dan mulia, serta bemanfaat di antara dan bagi
masyarakat bangsa -bangsa di bumi ini.

IKRAR PUTERA INDONESIA

Aku mengaku Putra Indonesia dan berdasarkan pengakuan
itu :

•- Aku mengaku bahwa aku adalah makhluk Tuhan
Al-Khalik Yang Maha Esa dan bersumber padanya
•- Aku mengaku bertumpah darah satu. Tanah Air
Indonesia
•- Aku mengaku berbangsa satu. Bangsa Indonesia.
•- Aku mengaku berjiwa satu. Jiwa Pancasila
•- Aku mengaku berbudaya satu. Budi daya bahasa
Indonesia
•- Aku mengaku bernegara satu. Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
•- Aku mengaku bertujuan satu masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila sesuai dengan isi
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
•- Aku mengaku bercara karya satu. Perjuangan besar
dengan akhlak dan ikhsan menurut ridha Tuhan Yang Maha
Esa.

Berdasarkan pengakuan-pengakuan ini dan demi
kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh
menjalankan kewajibanku untuk mengamalkan semua
pengakuan ini dalam karya hidupku sehari-hari.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati niatku ini
dengan taufiq dan hidayah-Nya serta inayah-Nya.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

UNGGAH UNGGUH 1 November 2007

Posted by ai susanto in Etika, Paskibra(ka).
add a comment

UNGGAH UNGGUH
Budiharjo Winarno, PEP-DIY 78.

Unggah ungguh, tata krama, sopan santun atau etiket
adalah kata yang berbeda tetapi mempunyai arti yang
sama, yaitu aturan-aturan baik yang tertulis maupun
tidak tertulis dan sudah menjadi adat istiadat yang
harus kita patuhi, jalani dan dikerjakan dengan
sungguh-sungguh. Apabila kita tidak menjalankannya
maka kita akan dianggap orang yang aneh, berbeda atau
tidak aturan.
Dalam budaya Jawa khususnya di Daerah Istimewa
Yogyakarta yang sejak berdirinya adalah daerah
kerajaan sampai saat ini, maka tata krama atau unggah
ungguh sudah ada sejak dahulu kala dan selalu
diajarkan secara turun temurun oleh kakek nenek buyut
kita atau bahkan nenek moyang kita yang selalu kita
dengar ceritanya sejak kecil sampai saat ini. Contoh
yang masih jelas dan harus selalu ditaati sampai saat
ini adalah di makam raja-raja Imogiri. Jika kita
ziarah kemakam tersebut maka wajib mengenakan pakaian
adat jawa yaitu berkain dan surjan peranakan, jika
kita tidak memakai baju tersebut maka kita akan
dianggap melanggar tata krama atau sopan santun adat
istiadat di makam tersebut dan jangan harap peziarah
tersebut diperbolehkan melanjutkan ziarahnya.
Dalam era modern seperti sekarang ini masih banyak
etiket atau tata krama yang harus kita pegang dan
junjung tinggi karena memang mengandung nilai-nilai
luhur yang sangat sulit untuk dihilangkan. Tata krama
itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam
lingkungan keluarga, sekolah, tetangga, lebih-lebih
lingkungan kerja atau bisnis. Setiap langkah kehidupan
kita selalu ada tata krama nya, misal dalam lingkungan
keluarga jika kita akan pergi sejak kecil kita dididik
untuk pamit kepada orang tua atau yang ada dirumah,
jika bertamu wajib kulo nuwun dan saat pulang wajib
pamit kepada tuan rumah. Saat kecil saya selalu
dididik untuk berpamit juga kepada orang tua atau
keluarga yang saya datangi, sehingga secara tidak
langsung saya juga mengenal keluarga dari teman yang
saya kunjungi. Demikian juga saat mengantar teman
wanita dari suatu kegiatan lebih-lebih jika sampai
malam hari, maka saya wajib mengantarkan sampai di
rumah dan bertemu dengan orang tua atau keluarganya
dan menyerahkan kepada kepada mereka, dalam hal ini
akan terasa kebenaran dari pepatah “datang tampak muka
pergi tampak punggung”,.
Dalam kehidupan sehar-hari kita harus membiasakan
dengan unggah ungguh yang sangat sederhana yaitu
selalu mengucapkan SaToMaTe atau Salam Tolong Maaf dan
Terima kasih.
Salam adalah sapaan yang paling awal kita ucapkan
kalau kita bertemu dengan seseorang misal :
Assalamu’alakum, Selamat Pagi, siang atau malam,
Hallo, Apa kabar dan biasanya disertai dengan anggukan
kepala, jabat tangan dan yang tidak kalah penting
adalah senyum yang tulus. Ucapan
Maaf harus kita sampaikan jika kita terpaksa harus
mengganggu seseorang, misal jika kita menanyakan
alamat kepada seseorang dijalan maka akan terasa lebih
sopan dan menghargai bila kita bertanya dengan
didahului ucapan : Maaf Bapak/Ibu saya terpaksa
mengganggu, apakah Bapak/Ibu mengetahui alamat yang
saya cari ini, dengan ucapan seperti itu saya yakin
orang yang ditanya akan menjawab dengan ramah dan akan
menunjukkan alamat yang kita cari jika mereka
mengetahuinya. Tetapi jika kita bertanya dengan tidak
sopan maka kita masih beruntung jika mereka mau
menjawab dan yang paling sering mereka akan membuang
muka atau bahkan menunjukkan arah yang salah dengan
sikap yang tidak sopan pula.
Tolong adalah suatu ucapan bahwa kita meminta tolong
kepada seseorang bahwa kita menghargainya dan tidak
memerintah dengan kasar. Misal : Pada saat rapat
suasan tidak tenang maka pemimpin rapat dapat
mengatakan Tolong saat ini jangan bicara
sendiri-sendiri karena kita sedang membahas hal-hal
yang sangat penting. Jika kita kerumah teman dan tidak
bertemu yang bersangkutan tetapi hanya ditemui orang
tuanya maka akan terasa beradabnya kita jika kita
menyampaikan ucapan : Bapak/Ibu bisakah saya minta
tolong untuk titip pesan untuk ……, sampaikan kalau
saya kesini dan ada perlu dengannya jika nanti dia
pulang tolong menghubungi saya, maka orangtua teman
kita tentu dengan senang hati akan menyampaikan pesan
kita kepada anaknya dan akan berbeda sikapnya jika
kita berkata : Bilang sama anakmu aku kesini dan suruh
dia bertemu denganku, maka orang tua teman kita dalam
hati akan berkata : Dasar anak gemblung tidak tahu
sopan santun cari saja sendiri, cepat pergi. Nah lho
bukanya ditolong malah disumpahin.
Terima kasih adalah ucapan terakhir yang paling sering
kita lupakan bahkan sering tidak mau kita ucapkan,
kenapa ? karena kita tidak mau menghargai orang lain,
karena ucapan terima kasih harus keluar dari hati
nurani kita yang paling dalam sebagai ungkapan syukur
kepada Tuhan maupun orang yang telah menolong atau
membantu kita. Sri Sultan saat bertemu Paskibraka 2004
mengatakan bahwa pengemis pun tidak mau mengucapkan
terima kasih saat kita memberi sedekah berupa uang
kepada mereka. Apa akibatnya bagi pengemis tersebut,
saya yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan akan
memberikan rejeki yang berlebih kepadanya karena yang
bersangkutan tidak pernah bersyukur atas karunianya.
Hal ini terbukti saat kita bertemu lagi dengannya maka
kita akan terasa berat untuk kembali memberikan uang
kepadanya karena hati kita berbicara “kenapa saya
beri lagi, wong tidak ada terima kasihnya”.
Unggah ungguh tidak akan habis kita kupas dalam satu
atau dua lembar kertas, akan tetapi apa yang saya
sampaikan diatas mudah-mudahan dapat membuka kembali
ingatan kita agar kita se

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Merah Putih 17 Oktober 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
add a comment

MERAH-PUTIH

Oleh :
Usmar Ismail

Merah-putih !
Dulu, sebelum Kau berkibar di tiang tinggi
dibelai, dipeluk angin merdeka ,
Engkau hanya lambang harapku,
Meski Kau wakili bangsa tidak berdaya,
Tidak bernama di sejarah dunia,
Namun Kau tersimpan dalam hatiku,
Lambang kasihku pada Nusaku.

Merah-Putih !
Kini, kulihat Kau terkibar di tengah bangsa
lambang kebangsaanku di Timur Raya,
Engkau panji perjuanganku
mengejar kemulian bagi bangsaku,
Dan demi Tuhan Pencipta bangsa,
Selama masih bersiut nafas di dada
berdenyut darahku penyiram medan
ta’kan kembali Kau masuk lipatan !

Djawa Baroe,
No. 19, 1944
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Sultan Hamid II, Pencipta Burung Garuda 16 Oktober 2007

Posted by ai susanto in Paskibra(ka).
15 comments

Pencipta lambang negara Burung Garuda adalah Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II. Nama bekas Menteri Negara RIS ini ditenggelamkan pemerintah Sukarno karena dikaitkan dengan pemberontakan Westerling.

Liputan6.com, Pontianak:

Siapa pencipta lambang negara Republik Indonesia, Burung Garuda? Muhammad Yamin. Bukan. Kreator lambang negara RI itu adalah Sultan Hamid Alkadrie II. Namun, kiprah Sultan Hamid II tenggelam setelah namanya dikait-kaitkan dengan peristiwa Westerling. Di hari peringatan ke-60 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2005, pihak keluarga Sultan Hamid II meminta pemerintah tidak melupakan jasa tokoh dari Kalimantan Barat ini.

Adalah Turiman yang membuktikan kebenaran ini dalam tesis S-2 di Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia pada 11 Agustus 1999 yang berjudul Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia (Suatu Analisis Yuridis tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Perundang-undangan). Dalam tesisnya yang dibimbing oleh Prof. Dimyati Hartono, Turiman mempertahankan secara yuridis dengan data-data yang akurat mengenai siapa sebenarnya pencipta lambang negara Burung Garuda.

Sultan Hamid II yang juga sultan kedelapan dari Kesultanan Kadriah Pontianak memiliki nama lengkap Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan VII Kesultanan Pontianak, ini lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913. Ayahnya adalah pendiri Kota Pontianak.

Sultan Hamid II dikenal cerdas. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda Belanda–semacam AKABRI–dengan pangkat letnan dua infanteri pada 1936. Dia juga menjadi ajudan Ratu Juliana dengan pangkat terakhir mayor jenderal.

Sultan Hamid adalah salah satu tokoh penting nasional dalam mendirikan Republik Indonesia bersama rekan seangkatannya, Sukarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Mr. Muhammad Roem, dan Muhammad Yamin. Dalam sejarah pendirian RI, Sultan Hamid pernah menjadi Ketua Delegasi BFO (Wakil Daerah/ Negara buatan Belanda) dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus 1949. Sultan Hamid juga menjadi saksi pelantikan Sukarno sebagai Presiden RI di Keraton Yogyakarta pada 17 Desember 1949. Ini terlihat dalam foto yang dimuat di Buku 50 Tahun Indonesia Merdeka.

Sepak terjangnya di dunia politik menjadi salah satu alasan bagi Presiden Sukarno untuk mengangkat Sultan Hamid sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio di Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 1949-1950. Sebenarnya, Sultan Hamid kurang pas dengan jabatan yang diembannya. Dia lebih ingin menjadi Menteri Pertahanan Keamanan sesuai pendidikan yang diperolehnya. Namun, posisi Menteri Pertahanan Keamanan justru dipercayakan pada Sultan Hamengkubowono IX.

Dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia yang dimuat dalam Buku 50 Tahun Indonesia Merdeka disebutkan, pada 13 Juli1945, dalam Rapat Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, salah satu anggota Panitia, Parada Harahap, mengusulkan tentang lambang negara.

Pada 20 Desember 1949, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat Nomor 2 Tahun 1949, Sultan Hamid Alkadrie II diangkat sebagai Menteri Negara RIS. Dalam kedudukannya ini, dia dipercayakan oleh Presiden Sukarno mengoordinasi kegiatan perancangan
lambang negara.

Dalam buku Bung Hatta Menjawab–Hatta saat itu menjadi Perdana Menteri RIS–tertulis Menteri Priyono yang ditugaskan oleh Sukarno melaksanakan sayembara lambang negara menerima hasil dua buah gambar rancangan lambang negara yang terbaik. Yaitu Burung Garuda karya Sultan Hamid II dan Banteng Matahari karya Muhammad Yamin. Namun, yang diterima oleh Presiden Sukarno adalah karya Sultan Hamid II dan karya Muhammad Yamin ditolak.

Melalui proses rancangan yang cukup panjang, akhirnya pada 10 Februari 1950, Menteri Negara RIS Sultan Hamid II mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang. Hasil akhirnya adalah lambang negara Garuda Pancasila yang dipakai hingga saat ini.

Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II diresmikan pemakaiannya dalam sidang kabinet RIS yang dipimpin PM RIS Mohammad Hatta pada 11 Februari 1950. Empat hari berselang, tepatnya 15 Februari, Presiden Sukarno memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara karya Sultan Hamid II kepada khalayak umum di Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin) Jakarta.

Pada 20 Maret 1950, bentuk final lambang negara rancangan Menteri Negara RIS Zonder Forto Polio, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Sukarno dan mendapat disposisi persetujuan presiden. Selanjutnya Presiden Sukarno memerintahkan pelukis Istana bernama Dullah untuk melukis kembali gambar itu sesuai bentuk final dan aslinya.

Lambang negara ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 yang diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor 111 dan penjelasannya dalam tambahan Lembaran Negara Nomor 176 Tahun 1951 pada 28 November 1951. Sejak saat itu, secara yuridis gambar lambang negara rancangan Sultan Hamid II secara resmi menjadi Lambang Negara Kesatuan RI.

Sebelum meninggal dunia, Sultan Hamid II yang didampingi sekretaris pribadinya, Max Yusuf Alkadrie menyerahkan gambar rancangan asli lambang negara yang sudah disetujui Presiden Sukarno kepada Haji Mas Agung–Ketua Yayasan Idayu, pada 18 Juli 1974. Gambar rancangan asli itu sekaligus diserahkan kepada Haji Mas Agung di Jalan Kwitang Nomor 24 Jakarta Pusat.

Pada 5 April 1950, Sultan Hamid II dikait-kaitkan dengan peristiwa Westerling sehingga harus menjalani proses hukum dan dipenjara selama 16 tahun oleh pemerintah Sukarno. Sejak itulah, nama Sultan Hamid II seperti dicoret dari catatan sejarah. Jarang sekali buku sejarah Indonesia yang terang-terangan menyebutkan Sultan Hamid sebagai pencipta gambar Burung Garuda. Orang lebih sering menyebut nama Muhammad Yamin sebagai pencipta lambang negara.

Ada kesan Sultan Hamid II yang sangat berjasa sebagai perancang lambang negara sengaja dihilangkan oleh pemerintahan Sukarno. Kesalahan sejarah itu berlangsung bertahun-tahun hingga pemerintahan Orde Baru.

Dalam tesisnya, Turiman menyimpulkan, sesuai Pasal 3 Ayat 3 (tiga) UUD Sementara 1950 menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara. Berdasarkan Pasal 23, 3, jo PP Nomor 60/1951 itu ditentukan bahwa bentuk dan warga serta skala ukuran lambang negara RI adalah sebagaimana yang terlampir secara resmi dalam PP 66/51, Lembaran Negara Nomor 111 serta bentuk lambang negara yang dimaksud adalah lambang negara yang dirancang oleh Sultan Hamid Alkadrie II yaitu Burung Garuda. Bukan lambang negara yang dibuat oleh Muhammad Yamin yang berbentuk banteng dan matahari. “Sudah jelas bahwa lambang negara Burung Garuda adalah buah karya Sultan Hamid Alkadrie II,” kata Turiman yang juga dosen Pascasarjana Universitas Tanjungpura Pontianak.

Turiman menambahkan, sudah sewajarnyalah negara, mengembalikan nama baik Sultan Hamid Alkadrie II sebagai pencipta lambang negara yang terlepas dari masalah politik lain yang ditimpakan kepadanya. Sejarah, kata Turiman, harus diluruskan agar anak cucu tidak ikut-ikutan salah termasuk memberikan penghormatan kepada Sultan Hamid Alkadrie II sebagai pahlawan nasional seperti halnya W.R. Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya.

Hal yang sama juga disuarakan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie–pemegang tampuk kekuasaan Istana Kadriah Kesultanan Pontianak–yangmenjadi ahli waris Sultan Hamid Alkadrie II. Menurut dia, negara pantas memberikan penghargaan terbaik kepada almarhum Sultan Hamid Alkadrie II atas jasanya menciptakan lambang negara Burung Garuda. Penghargaan yang tepat adalah pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sultan Hamid Alkadrie II.

Sultan Syarif Abubakar mengatakan, sejarah harus diletakkan pada porsinya semula. Pemutarbalikan fakta sejarah yang terjadi saat ini sangat merugikan generasi mendatang. Sebab, mereka tidak akan pernah tahu tentang pencipta lambang negaranya, Burung Garuda.

Untuk mengembalikan fakta sejarah yang sebenar-benarnya mengenai pencipta lambang negara Burung Garuda yang dirancang oleh Sultan Hamid Alkadrie II ini, pihak ahli waris dan Pemerintah Kalbar serta Universitas Tanjungpura pernah menyelenggarakan seminar nasional di Pontianak. Ketua DPR Akbar Tandjung juga hadir dalam acara yang berlangsung pada 2 Juni 2000. Saat itu, Akbar Tandjung yang Ketua Umum Partai Golongan Karya juga mengusulkan agar nama baik Sultan Hamid Alkadrie II dipulihkan dan diakui sebagai pencipta lambang negara. Sayangnya, usulan itu cuma sampai di laci ketua DPRD saja tanpa ada langkah lanjutan hingga detik ini.

Sultan Hamid Alkadrie II melewati masa kecilnya di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak yang dibangun pada 1771 Masehi. Dia sempat diangkat sebagai Sultan Pontianak VII pada Oktober 1945. Sultan Hamid II juga pernah menjadi Kepala Daerah Istimewa Kalbar pada 1948. Foto- foto Sultan Hamid Alkadrie II dan karya besarnya lambang negara Burung Garuda di Balairung Istana Kadriah Kesultanan Pontianak.

(TNA/Amin Alkadrie)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.