Kepemimpinan Sejati

20 11 2007

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:

”I don’t think you have to be
wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”
—General Ronal Fogleman, US Air Force—

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab:
As for the best leaders, the people do not notice their existence.
The next best, the people honour
And praise.
The next, the people fear, And the next the people hate.
When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’.

Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.
Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

Karakter Seorang Pemimpin Sejati
Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ—EQ—SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.
Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).
Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.
Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:
1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)
2. Visi yang jelas (clear vision)
3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)
Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).
Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.

Sumbe r: http://www.motivasi.web.id/





Tentang OSIS

20 11 2007

PENDIDIKAN DEMOKRASI LEWAT PEMILIHAN KETUA OSIS
Sejak rezim Soeharto ditumbangkan dari singgasana kekuasaan, teriakan reformasi pun lantang diperdengarkan oleh segenap elemen masyarakat. Konsekuensi dari kata reformasi tersebut adalah harus menerapkan demokrasi dalam berbagai hal. Untuk bisa mewujudkan kata demokrasi ini, maka kata demokrasi harus diajarkan dan dipraktikkan dalam kata dan tindakan nyata. Lembaga pendidikan dipandang masyarakat sebagai tempat yang paling manjur untuk mendidik masyarakat agar bisa berperilaku demokrtis. Siswa SLTP sebagai bagian dari masyarakat, juga tidak ketinggalan dari proses tersebut.Katanya, belajar demokrasi diusahakan sedini mungkin. Alasannya, lembaga pendidikan merupakan jembatan emas yang hampir dilalui dilalui semua elemen masyarakat. Petanyaan yang muncul kemudian adalah media seperti apa yang disiapkan SLTP untuk pendidikan demokrasi tersebut? Seperti apa proses demokarsi tersebut di sekolah SLTP Kristoforus 2? Berikut petikan kegiatan pemilihan ketua OSIS sekolah tersebut yang di pandang sangat demokratis.
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), itulah satu-satunya lembaga formal yang ada di setiap sekolah sebagai tempat resmi bagi siswa dalam menyalurkan aspirasinya. Lembaga ini hampir dimiliki oleh semua sekolah tingkat menengah, termasuk menengah pertama (SLTP).Organisasi yang sama juga dimiliki oleh Sekolah Menegah Umum (SMU). Di perguruan tinggi organisasi ini berubah nama menjadi Badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM). Hingga hari ini OSIS masih menjadi organisasi formal tempat menyalurkan pendapat yang bervariasi dari kepentingan anggotangya.

OSIS yang sama juga terdapat di SLTP St. Kritoforus 2. Melalui OSIS berbagai ragam pendapat dari para siswa bisa disalurkan. Untuk kesinambungan kegiatannya, maka pada tanggal 15 September 200, diadakan pemilihan ketua OSIS menggantikan pengurus sebelumnya. Prosesnya, diawali dengan terlebih dahulu menjaring para calon ketua dari setiap kelas. Calon ketua OSIS dari setiap kelas itu kemudian melakukan kampanye secara terbuka untuk mencari dukungan dari para siswa. Berbagai strategi kampanye pun dilakukan para calon ketua. Setelah proses penjaringan calon dan kampanye dilalui, maka langkah berikutnya dilakukan pemilihan secara Langsung-Umum-Bebas-Rahasia (LUBER).

Terhadap proses ini, pembina OSIS SLTP Kristoforus 2, Drs. Ig. Hery mengatakan proses ini secara tidak langsung bertujuan mendidik siswa untuk belajar berdemokrasi. Guru Geografi ini melanjutkan, pada proses ini keterlibatan para guru diminimalkan dan membiarkan siswa melakukan sendiri apa yang menjadi kewajibannya. Peran guru hanya sebagai mediator yang siap memberikan penjelasan tentang cara pelaksanaannya jika para siswa membutuhkannya.
Dari hasi pemilihan tersebut maka Dorine Austan (siswa kelas II B) resmi terpilih menjadi ketua OSIS. Lewat kata sambutanya di depan semua para siswa dan guru, siswa berambut pendek ini mengajak semua elemen (siswa-guru-karyawan) Kristoforus 2 untuk ikut secara aktif dalam menyumbangkan pemikiran cerdasnya untuk memajukan sekolah. Ajakan Dorine tersebut dipertegas lagi oleh Bapak Drs. B. Honoratus pada acara pelantikan pengurus OSIS pada tanggal 17 September 2001. Wakil kepala sekolah ini menambahkan, pengurus OSIS harus bisa menjadi teladan bagi semua siswa yang dipimpinnya. Selain itu, pengurus OSIS harus bisa menjalin kerja sama dengan teman-temannya, bisa berkomunikasi dengan para guru termasuk dengan pimpinan sekolah.





Makna Pekerjaan Anda…

16 11 2007

Makna Pekerjaan Anda…

Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pelatihan
mengenai sikap kerja disebuah hotel berbintang lima di
Singapura. Salah satu peserta pelatihan adalah Pak
Lim, seorang pria berusia 60 tahunan yang bekerja di
hotel tersebut. Bagi saya pekerjaan sehari-hari Pak
Lim sangatlah monoton dan membosankan. Setiap hari,
dengan membawa sebuah daftar, dia mengecek engsel
pintu setiap kamar hotel.

Saya akan menceritakan sedikit bagaimana tugas Pak Lim
sebenarnya. Pak Lim memulai rangkaian tugasnya dengan
mengecek engsel pintu pintu kamar 1001 dan memastikan
bahwa engsel dan fungsi kunci pintu berfungsi dengan
baik. Pengecekan yang dilakukannya bukanlah pengecekan
“seadanya”, namun pengecekan yang saksama di setiap
engsel dan memastikan bahwa setiap pintu bisa
dibuka-tutup tanpa masalah.

Untuk mengecek satu pintu saja, Pak Lim berulang kali
membukan dan menutup pintu tersebut hanya untuk
memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik.
Barulah setelah puas, dia memberi paraf pada daftar
yang dibawanya dan mengecek pintu kamar berikutnya,
kamar 1002, dia melakukan hal yang sama, begitu
seterusnya. Dalam sehari, Pak Lim bisa mengecek pintu
30 kamar.

Anda tentu bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan
Pak Lim untuk mengecek pintu semua kamar di hotel itu.
kurang lebih sebulan! Tidak mengejutkan sebenarnya
karena hotel berbintang lima ini memiliki sekitar 600
kamar.

Tugas pengecekan Pak Lim dapat diibaratkan sebagai
lingkaran. setelahpintu kamar terakhir selesai dicek,
Pak Lim akan kembali lagi ke kamar pertama, kamar
1001. Rangkaian tugas ini terus berjalan seperti itu,
dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun demi tahun.
Pekerjaan semaca ini jelas merupakan pekerjaan
monoton, tanpa variasi dan membosankan! saya sendiri
tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pak Lim masih
bisa cermat dan teliti mengecek setiap engsel pintu
dalam menjalani tugas yang membosankan ini. saya
membayangkan, seandainya saya sendiri yang diminta
melakukan hal semacam ini, mungkin saya akan memeriksa
setiap engsel sekedarnya saja.

Karena sangat penasaran, suatu hari saya bertanya
kepada Pak Lim apa yang sebenarnya membuatnya begitu
tekun menjalani pekerjaan rutin itu. Jawabannya
sungguh diluar dugaan saya. Dia mengatakan,” James,
dari pertanyaan Anda, saya bisa menyimpulkan bahwa
Anda tidak mengerti pekerjaan saya. Pekerjaan saya
bukan sekedar memeriksa engsel, tetapi lebih dari itu.
Begini. Tamu-tamu kami di hotel berbintang lima ini
jelas bukan orang sembarangan. mereka biasanya adalah
Kepala Keluarga, CEO sebuah perusahaan, Direktur atau
Manajer Senior. Dan saya tahu mereka semua jelas
bertanggung jawab atas kehidupan keluarga mereka, dan
juga banyak karyawan dibawahnya yang jumlahnya mungkin
20 orang, 100 atau bahkan ribuan orang.

“Nah, kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini,
misalnya saja kebakaran dan pintu tidak bisa dibuka
karena engselnya rusak, mereka bisa meninggal didalam
kamar. akibatnya bisa Anda bayangkan, pasti sangat
mengerikan, bukan hanya untuk reputasi hotel ini,
tetapi juga bagi keluarga mereka, karyawan yang berada
dibawah tanggungan mereka. Keluarga mereka akan
kehilangan sosok Kepala Keluarga yang menafkahi mereka
dan karyawan mereka akan kehilangan sorang pimpinan
senior yang bisa jadi mengganggu kelancaran
perusahaan. Sekarang Anda mungkin dapat mengerti bahwa
tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel, tapi
menyelamatkan Kepala Keluarga dan Pimpinan unit bisnis
sebuah perusahaan. Jadi, jangan meremehkan tugas
saya.”

Saya benar-benar terperangah mendengar penjelasan
panjang lebar Pak Lim. Dari situlah saya mengerti
bahwa jika seseorang tahu benar makna dibalik
pekerjaannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan
bangga, dengan senang hati, dengan penuh tanggung
jawab. Sebaliknya, seandainya saja Pak Lim tidak
mengerti makna pekerjaannya, dia akan mengatakan bahwa
tugasnya hanya sebagai tukang periksa engsel.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri. Apakah anda
tahu benar makna dibalik pekerjaan Anda? Katakanlah
Anda adalah seorang Staff, Kepala Bagian, Manajer unit
bisnis, Kadiv, apakah Anda tahu makna dibalik
pekerjaan anda sebagai seorang Staff, Kepala Bagian ,
Manajer atau Kadiv ?

Ingatlah bahwa jika seorang tahu makna pekerjaannya,
dia pasti akan melakukan pekerjaan dengan rasa bangga,
dan yang terpenting, dia akan membuat pekerjaannya
penuh arti, bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi
perusahaannya.

Regards,
JAMES GWEE

________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

http://id.yahoo.com/





PPM = Peraturan Penghormatan Militer

15 11 2007

PPM = Peraturan Penghormatan Militer

Paskibraka sebagai Pandu Ibu Pertiwi yang berjiwa
merah putih selalu bersikap kesatria. Sikap dan
tingkah lakunya lemah lembut namun mengandung
ketegasan. Nada bicara dan candanya selalu melihat
situasi dan kondisi sekelilingnya. Sebagai tanda cinta
cita rasa manusia beradab dan berbudaya tinggi, dari
hati sanubarinya yang paling dalam selalu terungkap
ucapan “salomkasih” (salam, tolong, maaf,
terimakasih).
Seorang paskibraka yang penuh cinta kasih akan selalu
berpikir positip dan berani untuk menyapa, dia akan
selalu menyapa terlebih dahulu dan tidak akan menunggu
untuk disapa oleh semua orang yang ditemuinya, baik
orang tua, kakak, adik, saudara-saudaranya, atasan,
bawahan dan teman-teman yang lain. Dengan penuh kasih
sayang dia akan bersuka cita menyapa dan menunjukkan
empati kepada semua orang, perhatian penuh kasih
sayang akan tercermin dalam tingkah laku, sikap dan
perbuatannya, tutur katanya lembut, suaranya
memancarkan suka cita suara hati yang yang bahagia,
senyum tulus akan menghiasi bibir dan hatinya sehingga
saat berbicara akan terdengar nada yang sangat ramah
tanpa kesan dibuat-buat. Saat bertemu ia akan
mengucapkan “salam”, salam tersebut dapat berupa
ucapan : assalamu’alaikum, selamat pagi, siang atau
malam, apa kabar dan sebagainya dengan nada suka cita
dan ketulusan. Ucapan salam bisa diteruskan dengan
suatu uluran tangan untuk berjabat tangan,. Jabat
tangan kepada orang yang kita beri salam dengan penuh
kehangatan dan kasih sayang akan mengalirkan
kebahagiaan dan kedamaian bagi semua orang yang kita
beri salam.
Dalam suatu latihan calon Paskibraka para pelatihnya
bisa dari unsur militer maupun dari sipil yaitu para
purna paskibraka yang bergabung di PPI. Dalam latihan
semua pelatih akan menerapkan unsur ketegasan dalam
memberikan aba-aba atau perintah untuk menumbuhkan
kekompakan dan kedisiplinan. Walau latihan yang
diterapkan mengandung unsur militer karena pelatih
maupun peraturan baris berbaris yang digunakan, namun
anggota Paskibraka tetap orang sipil dan tidak perlu
kaku menerapkan aturan militer dalam kehidupan
sehari-hari. Kita hanya mengambil beberapa ajaran
positip dari militer misalnya : kedisiplinan,
ketegasan dan keberanian untuk mengambil sikap untuk
bela Negara. Paskibraka adalah Sipil dan Bukan
Militer, jadi adalah suatu kesalahan besar jika dalam
pembinaan lanjutan para alumus paskibraka yang
tergabung dalam PPI menerapkan peraturan militer dalam
kehidupan keseharian, misal harus menghormat dengan
mengangkat tangan, sikap senioritas yang berlebihan,
salam komando
yang tidak dipahami maknanya dan lain sebagainya
karena semua itu tidak akan sejalan dengan jiwa
paskibraka yang harus tertanam dalam setiap hati
paskibraka dan purna paskibrakanya.
Dipintu masuk kantor PPI Jakarta Timur tertulis Area
PPM = Area Peraturan Penghormatan Militer, jadi semua
anggota PPI Jakarta Timur harus dan wajib menerapkan
aturan-aturan militer. Benarkah apa yang tertulis
dipintu itu ?
1. Sebagai seorang purna paskibraka yang berjiwa merah
putih marilah kita merenungkan makna dan arti kalimat
itu
2. Masih perlukah kita menerapkan aturan-aturan yang
tidak sejalan jiwa paskibraka dan kita tidak ketahui
maknanya.
3. Jawaban itu ada pada hati kita semua, apakah jiwa
kita benar-benar merah putih.
4. Jika hal itu tidak perlu kita lakukan maka jangan
lakukan, tetapi jika tidak benar dan ada yang
melakukan maka pengurus PPI baik DPP, DPD harus
meluruskannya
5. Jika pengurus PPI tidak bisa meluruskan dan
memperbaikinya maka kita perlu bertanya : Apa guna PPI
maupun paskibrakanya

Selamat merenungkan itu semua

Salam
Mas Bhe

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com





Bahagia Menjadi Nomor Dua

5 11 2007

Bahagia Menjadi Nomor Dua
Gede Prama

Puluhan tahun lalu, David C McClelland dikenal dengan idenya tentang masyarakat berprestasi. Hampir di setiap negara, korporasi tertarik mempercepat pertumbuhan dengan menginjeksikan virus motivasi berprestasi.

Fundamental dalam ide ini, kehidupan hanya layak dijalani bila menjadi nomor satu. Dan sekian puluh tahun setelah ide ini berlalu, tampaknya penyebaran virusnya masih berjalan cepat.

Di dunia korporasi, pusat pertumbuhan dari mana masa depan disiapkan, ditandai oleh semakin derasnya penyebaran virus ini.

Dalam pergeseran-pergeser an kekuasaan negara juga serupa. Yang berpengaruh adalah tokoh seperti George W Bush, John Howard yang agresif, diimbangi teroris yang tidak kalah agresif. Sebagai hasilnya, suhu hubungan antarmanusia di dunia memanas dari hari ke hari.

Soal implikasi kemajuan materi dari injeksi virus berprestasi, memang tidak diragukan. Namun semua ada ongkosnya. Kedamaian, kebahagiaan, dan kenyamanan jiwa hanya sebagian hal yang harus dikorbankan.

Isu pemanasan global yang belakangan ditiupkan ulang secara besar-besaran oleh Al Gore, belum terlihatnya tanda-tanda perdamaian akibat serangan AS ke Afganistan dan Irak, serta memanasnya suhu politik di beberapa negara yang dulu sejuk seperti Thailand dan Myanmar hanyalah sebagian tanda.

Negeri ini juga serupa. Sepuluh tahun reformasi ditandai gesekan-gesekan antarelite yang berebut menjadi nomor satu. Di zaman pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat teramat sibuk melayani elite yang semuanya mau nomor satu.

Rahasia-rahasia sentuhan

Sebagaimana ditulis Daoed Joesoef tentang ekonomi Jepang, tiang penopang kemajuan Jepang yang mengagumkan itu adalah ibu rumah tangga yang melaksanakan tugas keibuannya dengan rasa bangga dan bahagia.

Cerita India juga serupa. Begitu India merdeka, Mahatma Gandhi ikhlas memberikan kursi perdana menteri kepada Nehru. Sebuah keputusan yang menyelamatkan India, sekaligus memberi kesempatan India bertumbuh tanpa diganggu virus perseteruan menjadi nomor satu.

Mohammad Hatta adalah legenda Indonesia. Ia berbahagia mengisi hidupnya dengan menjadi nomor dua. Saat itu, beberapa kali terjadi perselisihan dengan orang nomor satu. Ia selamatkan negeri ini dengan cara berbahagia menjadi nomor dua.

Di Timur pernah lahir guru agung dengan cahaya terang. Jauh sebelum ia mengalami pencerahan, guru ini pernah terlahir sebagai kura-kura. Suatu hari di tengah lautan, kura-kura ini melihat manusia terapung. Hanya karena menempatkan hidup orang lebih penting daripada hidupnya, ia gendong manusia ini ke pinggir pantai. Setelah kelelahan di pantai, ia tertidur. Saat terbangun, tubuhnya sudah dalam keadaan diselimuti ribuan semut. Lagi-lagi karena menganggap hidup orang lebih penting daripada hidupnya, ia biarkan ribuan semut memakan tubuhnya. Padahal, hanya dengan gerakan ke laut, ia selamat dari ribuan semut ini.

Terinspirasi kehidupan seperti inilah, lalu lahir orang-orang seperti Master Hsing Yun. Dalam karya indahnya, The Philosophy of Being Second, guru rendah hati yang banyak dipuji ini bertutur tentang rahasia hidupnya. Di salah satu pojok bukunya, ia menulis, “you are important, he is important, I am not”.

Orang lain lebih penting

Memang terdengar aneh, terutama bagi mereka yang biasa menyembah ego, meletakkan nomor satu sebagai satu-satunya kelayakan kehidupan. Namun, bagi raksasa pelayanan kelas dunia seperti Singapore Airlines, keberhasilan mereka dikarenakan rajin mengajari orangnya bahwa “orang lain penting, saya tidak penting”. Dalai Lama is a living spiritual giant. Mendapat Nobel Perdamaian dan penghargaan sivil tertinggi di AS yang membuatnya sejajar George Washington dan Paus Yohanes Paulus II. Rahasia di balik semua ini juga serupa, musnahnya semua ego, hanya menyisakan kebajikan.

Lebih-lebih pejalan kaki di jalan Tuhan dan Buddha. Hampir tidak pernah terdengar bahwa ego dan kecongkakan membawa seseorang sampai di tempat jauh. Mereka yang dikagumi di jalan ini hampir selalu ditandai oleh kesediaan menempatkan orang lain di nomor satu, lalu membangun kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain.

Bagi seorang Master Hsing Yun malah lebih jauh lagi, being touched is the most wonderful thing in life. Tersentuh, apalagi sampai menitikkan air mata, adalah pengalaman batin yang menawan. Siapa pun yang berhasil membuat orang lain tersentuh tidak saja sedang menciptakan kebahagiaan, tetapi juga membuat orang membangun tembok kesetiaan yang susah ditembus.

Di sebuah pojokan kehidupan guru rendah hati ini, pernah terjadi ia demikian dipuji, dikagumi. Sehingga tidak saja dirinya yang menitikkan air mata, langit yang biru tanpa awan sedikit pun ikut meneteskan air mata dengan menurunkan hujan. Seperti sedang bercerita, tidak ada kecongkakan yang menyentuh hati. Kebajikan, ketulusan, dan kesediaan membangun kebahagiaan di bawah kebahagiaan orang lain, itulah rahasia-rahasia sentuhan.

Alam memang penuh tanda. Ia tidak melarang manusia menjadi nomor satu. Jumlah batu yang menjadi puncak gunung jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang menjadi lereng dan dasar gunung. Bila usaha hanya berujung pada nomor dua, ia sebuah pertanda mulia: kita sedang menjadi lereng dan membuat orang lain jadi nomor satu, di puncak. Bukankah ini sikap yang menyentuh?

Perlambang alam lain, kelapa tumbuh di pantai, cemara tumbuh di gunung. McClelland telah membuat banyak manusia jadi nomor satu, lengkap dengan hawa panas ala kelapa di pantai. Master Hsing Yun memberikan inspirasi tentang kehidupan yang menyentuh karena berbahagia jadi nomor dua, mempersilakan orang lain menjadi nomor satu, mirip cemara yang sejuk di gunung.

Bila pencinta nomor satu berfokus pada menjadi benar dan hebat, kesejukan ala cemara berfokus pada menjadi baik dan menyentuh. Ia serupa kisah tiga anak yang memilih tiga buah pir pemberian tetangga. Murid McClelland akan memilih yang terbesar dan tersegar. Anak yang batinnya sejuk akan memilih yang terkecil dan terjelek. Ia berbahagia melihat orang lain menikmati buah pir yang besar dan segar. Dan Anda pun bebas memilih ikut yang mana.

Gede Prama Bekerja di Jakarta; Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com





Pesan Pembina

4 11 2007

Kak Hussein Mutahar :
Kebutuhan dunia yang terbesar adalah kebutuhan akan manusia… Manusia yang tidak mau dijual, juga tidak mau dibeli. Manusia yang dalam lubuk hatinya ada kebenaran dan kejujuran. Manusia yang tidak takut untuk menyebut dosa dengan kebenaran namanya sendiri. Manusia yang nuraninya teguh terhadap kewajiban seperti patuhnya jarum kompas menunjukkan arah kutub. Manusia yang tegar membela kebenaran meski langit runtuh menimpanya. Namun, watak seperti itu bukanlah sesuatu yang tercipta secara kebetulan. Bukan kemurahan hati atau imbalan jasa dari orang lain. Watak luhur adalah hasil penataan dan disiplin diri. Hasil dari sikap merendah terhadap kekuasaan alam. Hasil pasrah diri untuk mengabdi kepadaTuhan dan sesama manusia dengan penuh rasa kasih sayang…

Kak Idik Sulaeman :
Karena benda inilah (Sang Merah Putih) kita berkumpul di Desa Bahagia… Saling kenal, saling bercerita, saling cinta dalam satu rasa : Aku Putera Indonesia. Meskipun hanya kenangan saat menjadi anggota Paskibraka, Jiwa dan semangatnya terasa abadi dan lestari, Pertahankan terus dan selalu kobar-kobarkanlah jiwa dan semangat itu!

Kak Dharminto Surapati :
Seorang manusia semakin lama akan semakin tua. Satu demi satu, kami yang tua-tua ini akan pergi dan tak selamanya berada diantara kalian. Jangan biarkan kepergian kami tanpa jejak dan peninggalan. Jadilah sebuah “Roda Gendheng” yang mampu terus berputar dan memutar roda-roda lainnya meski sumber tenaga awalnya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi…

Bunda Bunakim :
Dalam bekerja, kalian harus selalu menjadi kuli-kuli kencang yang tidak punya ”wudhel” (pusar). Yaitu orang yang mampu bekerja keras dan terus mengabdi untuk kepentingan sesama tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Jangan mundur dari apa yang diniatkan. Cita-cita harus tercapai bila kalian sudah terlanjur basah. The show must go on, move forward and never retreat!





DHARMA MULIA PUTERA INDONESIA & IKRAR PUTRA INDONESIA

1 11 2007

DHARMA MULIA PUTERA INDONESIA

I. Putera Indonesia, adalah makhluk Tuhan Al-Khalik
Yang Maha Esa, dan oleh sebab itu, maka dengan iman
dan ihsan, serta dengan adab ia bertaqwa kepada
Tuhannya.

II. Putera Indonesia adalah makhluk jenis manusia,
oleh sebab ia adalah manusia, maka ia berakhlak selaku
manusia. Pikirannya, perkataannya, dan perbuatannya
terhadap sesama makhluk khususnya sesama umat manusia
digetari oleh getaran rasa kasih sayang dari dalam
lubuk hati nuraninya dan digerakkan oleh daya rasa
keadilan dari budi kemanusiaannya, teristimewa
terhadap sesama Putera Indonesia.

Demikianlah laku dan karya manusia Sang Putera
Indonesia yang dapat dipercaya, beradab, bersila dan
berbudi luhur.

III. Karena darah kelahirannya tumpah di pangkuan Ibu
Pertiwi Indonesia, tumpah di tanah antara air, tumpah
di nusa antara bahari, dan bernafasnya menghirup udara
Indonesia, keperluan hidupnya dicukupi oleh Ibu
Indonesia, maka dengan kepantasan setiap Putera
Indonesia cinta kepada tanah air dan udara yang
diamanatkan oleh Tuhan Penguasa seluruh semesta alam
kepada umat Indonesia dan dengan kepantasan pula
membalas budi kepada ibu-nya. Suka dan rela berkorban
untuk melindunginya, memandunya, sambil berjuang tanpa
putus asa untuk mensejahterakan peri kehidupan Bangsa
Indonesia.

Sebagai putera se-ibu, setiap Putera berkesadaran,
berpandangan, dan bertata cara hidup selaku anggota
satu keluarga persatuan, ialah keluarga PERSATUAN
INDONESIA.

Demikianlah jiwanya : Jiwa Indonesia, pribadinya :
Pribadi Indonesia, perilakunya: Beradat Indonesia,
karya budi dayanya : Karya Budi Daya Indonesia.
Perhatian dan darma bhaktinya berpusat pertama - tama
dan terutama bagi kepentingan Indonesia, bukan
kepentingan lebih dari itu, apalagi kepentingan
dirinya sendiri.

IV. Setiap manusia, juga setiap Putera Indonesia, pada
hakekatnya adalah sama. Sama hak azasinya, sama daulat
pribadinya, sama daulat kerakyatannya. Itulah azas
kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan setiap bangsa di
atas dunia, demi peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Peri kehidupan putera - putera Indonesia dalam suatu
wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila, dipimpinkannya kepada hukum
yang mengandung kebijaksanaan sebagai mufakat yang
dicapai oleh wakil-wakilnya dalam permusyawaratan /
perwakilan.

Azas kemerdekaan yang dengan jujur, ditata dan
ditertibkan sedemikian itu, dengan disiplin pula
dipatuhinya dan tanpa putus asa menanggulangi segala
kesukaran dalam menjaga tetap berlakunya
ketatatertiban itu agar Indonesia dan putera puteranya
tetap merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Demikianlah dengan Ridho Tuhan Yang Maha Esa, segenap
Putera Indonesia selaku pandu - pandu ibunya, dengan
watak ksatria, rasa tanggung jawab dan dengan gembira
berjuang bersama - sama untuk mengadakan dan menjaga
adanya masyarakat yang adil, tetapi juga yang makmur
dalam peri kehidupan kebendaan yang dapat untuk
membekali peri kehidupannya di masa sesudah
meninggalkan hidup di dunia ini.

Selangkah demi selangkah, dengan cermat dan tepat,
hemat dan bersahaja, berupayalah segenap Putera
Indonesia, bersama - sama, untuk mewujudkan cita cita
bangsanya, ialah masyarakat Pancasila sebagai
warganya, dalam keadaan yang aman dan sentausa, jaya
dan mulia, serta bemanfaat di antara dan bagi
masyarakat bangsa -bangsa di bumi ini.

IKRAR PUTERA INDONESIA

Aku mengaku Putra Indonesia dan berdasarkan pengakuan
itu :

•- Aku mengaku bahwa aku adalah makhluk Tuhan
Al-Khalik Yang Maha Esa dan bersumber padanya
•- Aku mengaku bertumpah darah satu. Tanah Air
Indonesia
•- Aku mengaku berbangsa satu. Bangsa Indonesia.
•- Aku mengaku berjiwa satu. Jiwa Pancasila
•- Aku mengaku berbudaya satu. Budi daya bahasa
Indonesia
•- Aku mengaku bernegara satu. Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
•- Aku mengaku bertujuan satu masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila sesuai dengan isi
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
•- Aku mengaku bercara karya satu. Perjuangan besar
dengan akhlak dan ikhsan menurut ridha Tuhan Yang Maha
Esa.

Berdasarkan pengakuan-pengakuan ini dan demi
kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh
menjalankan kewajibanku untuk mengamalkan semua
pengakuan ini dalam karya hidupku sehari-hari.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati niatku ini
dengan taufiq dan hidayah-Nya serta inayah-Nya.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com





UNGGAH UNGGUH

1 11 2007

UNGGAH UNGGUH
Budiharjo Winarno, PEP-DIY 78.

Unggah ungguh, tata krama, sopan santun atau etiket
adalah kata yang berbeda tetapi mempunyai arti yang
sama, yaitu aturan-aturan baik yang tertulis maupun
tidak tertulis dan sudah menjadi adat istiadat yang
harus kita patuhi, jalani dan dikerjakan dengan
sungguh-sungguh. Apabila kita tidak menjalankannya
maka kita akan dianggap orang yang aneh, berbeda atau
tidak aturan.
Dalam budaya Jawa khususnya di Daerah Istimewa
Yogyakarta yang sejak berdirinya adalah daerah
kerajaan sampai saat ini, maka tata krama atau unggah
ungguh sudah ada sejak dahulu kala dan selalu
diajarkan secara turun temurun oleh kakek nenek buyut
kita atau bahkan nenek moyang kita yang selalu kita
dengar ceritanya sejak kecil sampai saat ini. Contoh
yang masih jelas dan harus selalu ditaati sampai saat
ini adalah di makam raja-raja Imogiri. Jika kita
ziarah kemakam tersebut maka wajib mengenakan pakaian
adat jawa yaitu berkain dan surjan peranakan, jika
kita tidak memakai baju tersebut maka kita akan
dianggap melanggar tata krama atau sopan santun adat
istiadat di makam tersebut dan jangan harap peziarah
tersebut diperbolehkan melanjutkan ziarahnya.
Dalam era modern seperti sekarang ini masih banyak
etiket atau tata krama yang harus kita pegang dan
junjung tinggi karena memang mengandung nilai-nilai
luhur yang sangat sulit untuk dihilangkan. Tata krama
itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam
lingkungan keluarga, sekolah, tetangga, lebih-lebih
lingkungan kerja atau bisnis. Setiap langkah kehidupan
kita selalu ada tata krama nya, misal dalam lingkungan
keluarga jika kita akan pergi sejak kecil kita dididik
untuk pamit kepada orang tua atau yang ada dirumah,
jika bertamu wajib kulo nuwun dan saat pulang wajib
pamit kepada tuan rumah. Saat kecil saya selalu
dididik untuk berpamit juga kepada orang tua atau
keluarga yang saya datangi, sehingga secara tidak
langsung saya juga mengenal keluarga dari teman yang
saya kunjungi. Demikian juga saat mengantar teman
wanita dari suatu kegiatan lebih-lebih jika sampai
malam hari, maka saya wajib mengantarkan sampai di
rumah dan bertemu dengan orang tua atau keluarganya
dan menyerahkan kepada kepada mereka, dalam hal ini
akan terasa kebenaran dari pepatah “datang tampak muka
pergi tampak punggung”,.
Dalam kehidupan sehar-hari kita harus membiasakan
dengan unggah ungguh yang sangat sederhana yaitu
selalu mengucapkan SaToMaTe atau Salam Tolong Maaf dan
Terima kasih.
Salam adalah sapaan yang paling awal kita ucapkan
kalau kita bertemu dengan seseorang misal :
Assalamu’alakum, Selamat Pagi, siang atau malam,
Hallo, Apa kabar dan biasanya disertai dengan anggukan
kepala, jabat tangan dan yang tidak kalah penting
adalah senyum yang tulus. Ucapan
Maaf harus kita sampaikan jika kita terpaksa harus
mengganggu seseorang, misal jika kita menanyakan
alamat kepada seseorang dijalan maka akan terasa lebih
sopan dan menghargai bila kita bertanya dengan
didahului ucapan : Maaf Bapak/Ibu saya terpaksa
mengganggu, apakah Bapak/Ibu mengetahui alamat yang
saya cari ini, dengan ucapan seperti itu saya yakin
orang yang ditanya akan menjawab dengan ramah dan akan
menunjukkan alamat yang kita cari jika mereka
mengetahuinya. Tetapi jika kita bertanya dengan tidak
sopan maka kita masih beruntung jika mereka mau
menjawab dan yang paling sering mereka akan membuang
muka atau bahkan menunjukkan arah yang salah dengan
sikap yang tidak sopan pula.
Tolong adalah suatu ucapan bahwa kita meminta tolong
kepada seseorang bahwa kita menghargainya dan tidak
memerintah dengan kasar. Misal : Pada saat rapat
suasan tidak tenang maka pemimpin rapat dapat
mengatakan Tolong saat ini jangan bicara
sendiri-sendiri karena kita sedang membahas hal-hal
yang sangat penting. Jika kita kerumah teman dan tidak
bertemu yang bersangkutan tetapi hanya ditemui orang
tuanya maka akan terasa beradabnya kita jika kita
menyampaikan ucapan : Bapak/Ibu bisakah saya minta
tolong untuk titip pesan untuk ……, sampaikan kalau
saya kesini dan ada perlu dengannya jika nanti dia
pulang tolong menghubungi saya, maka orangtua teman
kita tentu dengan senang hati akan menyampaikan pesan
kita kepada anaknya dan akan berbeda sikapnya jika
kita berkata : Bilang sama anakmu aku kesini dan suruh
dia bertemu denganku, maka orang tua teman kita dalam
hati akan berkata : Dasar anak gemblung tidak tahu
sopan santun cari saja sendiri, cepat pergi. Nah lho
bukanya ditolong malah disumpahin.
Terima kasih adalah ucapan terakhir yang paling sering
kita lupakan bahkan sering tidak mau kita ucapkan,
kenapa ? karena kita tidak mau menghargai orang lain,
karena ucapan terima kasih harus keluar dari hati
nurani kita yang paling dalam sebagai ungkapan syukur
kepada Tuhan maupun orang yang telah menolong atau
membantu kita. Sri Sultan saat bertemu Paskibraka 2004
mengatakan bahwa pengemis pun tidak mau mengucapkan
terima kasih saat kita memberi sedekah berupa uang
kepada mereka. Apa akibatnya bagi pengemis tersebut,
saya yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak akan akan
memberikan rejeki yang berlebih kepadanya karena yang
bersangkutan tidak pernah bersyukur atas karunianya.
Hal ini terbukti saat kita bertemu lagi dengannya maka
kita akan terasa berat untuk kembali memberikan uang
kepadanya karena hati kita berbicara “kenapa saya
beri lagi, wong tidak ada terima kasihnya”.
Unggah ungguh tidak akan habis kita kupas dalam satu
atau dua lembar kertas, akan tetapi apa yang saya
sampaikan diatas mudah-mudahan dapat membuka kembali
ingatan kita agar kita se

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com





Sahabat

31 10 2007

Sahabat

Sahabat adalah…
Seseorang yang bisa diam bersama kita dalam masa
keputusasaan, atau kebingungan tanpa menghakimi, tidak
menawarkan pemecahan masalah, ketika kita belum siap
untuk memecahkannya, dan tidak memotong pembicaraan
saat kita ingin bicara.

Sahabat adalah…
Tempat dimana kita bisa mengatakan dengan bahasa
apapun, dan pilihan kata manapun, mengeluarkan semua
isi hati, beban hidup, melepaskan tangis yang kita
tahan, malu yang kita sembunyikan, dan melampiaskan
semua hal yang kita pendam.

Sahabat adalah…
Seseorang yang bisa menoleransi ketidaktahuan dan
ketidaksembuhan, tidak menyuruh kita berhenti menangis
saat kita sedang menangis dan ada bersama kita dalam
menghadapi kenyataan atau ketidakmampuan, tanpa
melihat siapa kita, siapa teman kita dan apa jabatan
kita.

a friend will strengthen you with her prayers,
bless you with her love, encourage you with her heart
don’t walk in front of me, I may not follow…
don’t walk behind me, I may not lead…
Just walk beside me, and be my friend…

________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/





JANJI

31 10 2007

JANJI
Touching story from India.

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran.
Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke
sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,
namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di
depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu
asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak
yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru
8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini.
Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali
kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi
ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini?
Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang
punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air
mata dengan tangannya, dan berkata boleh ayah akan
saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok
tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta
agak ragu2 sejenak akan minta sesuatu sama ayah bila
habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi
permintaan saya?

Aku menjawab oh pasti, sayang.

Sindu tanya sekali lagi, betul nih ayah ?

Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang
kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,
istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil
berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit
khawatir dan berkata: Sindu jangan minta komputer atau
barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini
tidak punya uang.

Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta
barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dengan
perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia
bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu.

Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang
memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak
disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku
dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku,
istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata
Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari
Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak
perempuan dibotakin, tidak mungkin.

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga
kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu
sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal
yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi
Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada
keinginan lain, kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu
tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.

Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat
bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu
asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi
permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau
menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah
mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi
janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi
seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu
kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta,
harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan
anakku : janji kita harus ditepati.

Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku
sudah gila?

Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia
tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya
sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan
kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya
besar dan bagus.

Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku
melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan
melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku
membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil
berteriak : Sindu tolong tunggu saya.

Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu
botak.

Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar
dari mobil dan berkata: anak anda, Sindu benar2 hebat.
Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang,
Harish adalah anak saya, dia menderita kanker
leukemia. Wanita itu berhenti sejenak, nangis
tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak masuk sekolah,
karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi
botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut
diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu
Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya
untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya
saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish.
Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai
anak perempuan yang berhati mulia.

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat
kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.

________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

http://id.yahoo.com/





Merah Putih

17 10 2007

MERAH-PUTIH

Oleh :
Usmar Ismail

Merah-putih !
Dulu, sebelum Kau berkibar di tiang tinggi
dibelai, dipeluk angin merdeka ,
Engkau hanya lambang harapku,
Meski Kau wakili bangsa tidak berdaya,
Tidak bernama di sejarah dunia,
Namun Kau tersimpan dalam hatiku,
Lambang kasihku pada Nusaku.

Merah-Putih !
Kini, kulihat Kau terkibar di tengah bangsa
lambang kebangsaanku di Timur Raya,
Engkau panji perjuanganku
mengejar kemulian bagi bangsaku,
Dan demi Tuhan Pencipta bangsa,
Selama masih bersiut nafas di dada
berdenyut darahku penyiram medan
ta’kan kembali Kau masuk lipatan !

Djawa Baroe,
No. 19, 1944
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air





Sultan Hamid II, Pencipta Burung Garuda

16 10 2007

Pencipta lambang negara Burung Garuda adalah Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II. Nama bekas Menteri Negara RIS ini ditenggelamkan pemerintah Sukarno karena dikaitkan dengan pemberontakan Westerling.

Liputan6.com, Pontianak:

Siapa pencipta lambang negara Republik Indonesia, Burung Garuda? Muhammad Yamin. Bukan. Kreator lambang negara RI itu adalah Sultan Hamid Alkadrie II. Namun, kiprah Sultan Hamid II tenggelam setelah namanya dikait-kaitkan dengan peristiwa Westerling. Di hari peringatan ke-60 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2005, pihak keluarga Sultan Hamid II meminta pemerintah tidak melupakan jasa tokoh dari Kalimantan Barat ini.

Adalah Turiman yang membuktikan kebenaran ini dalam tesis S-2 di Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia pada 11 Agustus 1999 yang berjudul Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia (Suatu Analisis Yuridis tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Perundang-undangan). Dalam tesisnya yang dibimbing oleh Prof. Dimyati Hartono, Turiman mempertahankan secara yuridis dengan data-data yang akurat mengenai siapa sebenarnya pencipta lambang negara Burung Garuda.

Sultan Hamid II yang juga sultan kedelapan dari Kesultanan Kadriah Pontianak memiliki nama lengkap Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan VII Kesultanan Pontianak, ini lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913. Ayahnya adalah pendiri Kota Pontianak.

Sultan Hamid II dikenal cerdas. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda Belanda–semacam AKABRI–dengan pangkat letnan dua infanteri pada 1936. Dia juga menjadi ajudan Ratu Juliana dengan pangkat terakhir mayor jenderal.

Sultan Hamid adalah salah satu tokoh penting nasional dalam mendirikan Republik Indonesia bersama rekan seangkatannya, Sukarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, Mr. Muhammad Roem, dan Muhammad Yamin. Dalam sejarah pendirian RI, Sultan Hamid pernah menjadi Ketua Delegasi BFO (Wakil Daerah/ Negara buatan Belanda) dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus 1949. Sultan Hamid juga menjadi saksi pelantikan Sukarno sebagai Presiden RI di Keraton Yogyakarta pada 17 Desember 1949. Ini terlihat dalam foto yang dimuat di Buku 50 Tahun Indonesia Merdeka.

Sepak terjangnya di dunia politik menjadi salah satu alasan bagi Presiden Sukarno untuk mengangkat Sultan Hamid sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio di Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 1949-1950. Sebenarnya, Sultan Hamid kurang pas dengan jabatan yang diembannya. Dia lebih ingin menjadi Menteri Pertahanan Keamanan sesuai pendidikan yang diperolehnya. Namun, posisi Menteri Pertahanan Keamanan justru dipercayakan pada Sultan Hamengkubowono IX.

Dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia yang dimuat dalam Buku 50 Tahun Indonesia Merdeka disebutkan, pada 13 Juli1945, dalam Rapat Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, salah satu anggota Panitia, Parada Harahap, mengusulkan tentang lambang negara.

Pada 20 Desember 1949, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat Nomor 2 Tahun 1949, Sultan Hamid Alkadrie II diangkat sebagai Menteri Negara RIS. Dalam kedudukannya ini, dia dipercayakan oleh Presiden Sukarno mengoordinasi kegiatan perancangan
lambang negara.

Dalam buku Bung Hatta Menjawab–Hatta saat itu menjadi Perdana Menteri RIS–tertulis Menteri Priyono yang ditugaskan oleh Sukarno melaksanakan sayembara lambang negara menerima hasil dua buah gambar rancangan lambang negara yang terbaik. Yaitu Burung Garuda karya Sultan Hamid II dan Banteng Matahari karya Muhammad Yamin. Namun, yang diterima oleh Presiden Sukarno adalah karya Sultan Hamid II dan karya Muhammad Yamin ditolak.

Melalui proses rancangan yang cukup panjang, akhirnya pada 10 Februari 1950, Menteri Negara RIS Sultan Hamid II mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang. Hasil akhirnya adalah lambang negara Garuda Pancasila yang dipakai hingga saat ini.

Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II diresmikan pemakaiannya dalam sidang kabinet RIS yang dipimpin PM RIS Mohammad Hatta pada 11 Februari 1950. Empat hari berselang, tepatnya 15 Februari, Presiden Sukarno memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara karya Sultan Hamid II kepada khalayak umum di Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin) Jakarta.

Pada 20 Maret 1950, bentuk final lambang negara rancangan Menteri Negara RIS Zonder Forto Polio, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Sukarno dan mendapat disposisi persetujuan presiden. Selanjutnya Presiden Sukarno memerintahkan pelukis Istana bernama Dullah untuk melukis kembali gambar itu sesuai bentuk final dan aslinya.

Lambang negara ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 yang diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor 111 dan penjelasannya dalam tambahan Lembaran Negara Nomor 176 Tahun 1951 pada 28 November 1951. Sejak saat itu, secara yuridis gambar lambang negara rancangan Sultan Hamid II secara resmi menjadi Lambang Negara Kesatuan RI.

Sebelum meninggal dunia, Sultan Hamid II yang didampingi sekretaris pribadinya, Max Yusuf Alkadrie menyerahkan gambar rancangan asli lambang negara yang sudah disetujui Presiden Sukarno kepada Haji Mas Agung–Ketua Yayasan Idayu, pada 18 Juli 1974. Gambar rancangan asli itu sekaligus diserahkan kepada Haji Mas Agung di Jalan Kwitang Nomor 24 Jakarta Pusat.

Pada 5 April 1950, Sultan Hamid II dikait-kaitkan dengan peristiwa Westerling sehingga harus menjalani proses hukum dan dipenjara selama 16 tahun oleh pemerintah Sukarno. Sejak itulah, nama Sultan Hamid II seperti dicoret dari catatan sejarah. Jarang sekali buku sejarah Indonesia yang terang-terangan menyebutkan Sultan Hamid sebagai pencipta gambar Burung Garuda. Orang lebih sering menyebut nama Muhammad Yamin sebagai pencipta lambang negara.

Ada kesan Sultan Hamid II yang sangat berjasa sebagai perancang lambang negara sengaja dihilangkan oleh pemerintahan Sukarno. Kesalahan sejarah itu berlangsung bertahun-tahun hingga pemerintahan Orde Baru.

Dalam tesisnya, Turiman menyimpulkan, sesuai Pasal 3 Ayat 3 (tiga) UUD Sementara 1950 menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara. Berdasarkan Pasal 23, 3, jo PP Nomor 60/1951 itu ditentukan bahwa bentuk dan warga serta skala ukuran lambang negara RI adalah sebagaimana yang terlampir secara resmi dalam PP 66/51, Lembaran Negara Nomor 111 serta bentuk lambang negara yang dimaksud adalah lambang negara yang dirancang oleh Sultan Hamid Alkadrie II yaitu Burung Garuda. Bukan lambang negara yang dibuat oleh Muhammad Yamin yang berbentuk banteng dan matahari. “Sudah jelas bahwa lambang negara Burung Garuda adalah buah karya Sultan Hamid Alkadrie II,” kata Turiman yang juga dosen Pascasarjana Universitas Tanjungpura Pontianak.

Turiman menambahkan, sudah sewajarnyalah negara, mengembalikan nama baik Sultan Hamid Alkadrie II sebagai pencipta lambang negara yang terlepas dari masalah politik lain yang ditimpakan kepadanya. Sejarah, kata Turiman, harus diluruskan agar anak cucu tidak ikut-ikutan salah termasuk memberikan penghormatan kepada Sultan Hamid Alkadrie II sebagai pahlawan nasional seperti halnya W.R. Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya.

Hal yang sama juga disuarakan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie–pemegang tampuk kekuasaan Istana Kadriah Kesultanan Pontianak–yangmenjadi ahli waris Sultan Hamid Alkadrie II. Menurut dia, negara pantas memberikan penghargaan terbaik kepada almarhum Sultan Hamid Alkadrie II atas jasanya menciptakan lambang negara Burung Garuda. Penghargaan yang tepat adalah pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sultan Hamid Alkadrie II.

Sultan Syarif Abubakar mengatakan, sejarah harus diletakkan pada porsinya semula. Pemutarbalikan fakta sejarah yang terjadi saat ini sangat merugikan generasi mendatang. Sebab, mereka tidak akan pernah tahu tentang pencipta lambang negaranya, Burung Garuda.

Untuk mengembalikan fakta sejarah yang sebenar-benarnya mengenai pencipta lambang negara Burung Garuda yang dirancang oleh Sultan Hamid Alkadrie II ini, pihak ahli waris dan Pemerintah Kalbar serta Universitas Tanjungpura pernah menyelenggarakan seminar nasional di Pontianak. Ketua DPR Akbar Tandjung juga hadir dalam acara yang berlangsung pada 2 Juni 2000. Saat itu, Akbar Tandjung yang Ketua Umum Partai Golongan Karya juga mengusulkan agar nama baik Sultan Hamid Alkadrie II dipulihkan dan diakui sebagai pencipta lambang negara. Sayangnya, usulan itu cuma sampai di laci ketua DPRD saja tanpa ada langkah lanjutan hingga detik ini.

Sultan Hamid Alkadrie II melewati masa kecilnya di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak yang dibangun pada 1771 Masehi. Dia sempat diangkat sebagai Sultan Pontianak VII pada Oktober 1945. Sultan Hamid II juga pernah menjadi Kepala Daerah Istimewa Kalbar pada 1948. Foto- foto Sultan Hamid Alkadrie II dan karya besarnya lambang negara Burung Garuda di Balairung Istana Kadriah Kesultanan Pontianak.

(TNA/Amin Alkadrie)