jump to navigation

Yang Muda Yang Tidak Dipercaya Belum Tua Belum Boleh Bicara 18 Februari 2008

Posted by ai susanto in Kepemudaan, OSIS, Paskibra(ka).
trackback

Ketika kami memutuskan untuk mengambil Juri dari rekan-rekan kami sendiri pada Lomba TUB dan BB SMP Tingkat Kota Magelang Tahun 2007 yang lalu sebenarnya sudah dengan pertimbangan yang matang dan dengan kriteria yang ketat. Namun demikian ‘kesangsian’ dari peserta tetaplah muncul, ‘tudingan’ juri tidak obyektif dan netral pun bermunculan…

Sebelum memutuskan mengenai juri yang ditetapkan, khususnya juri TUB sebenarnya kami sudah diingatkan teman agar mempertimbangkan beberapa hal dalam penunjukkan teman-teman, atau lebih tepatnya adik-adik kami sebagai juri.

Memang benar bahwa 3 orang juri TUB yang kami tetapkan masih relatif muda. Beliau-beliau berusia 17 s.d. 22 Tahun. Namun pengalaman beliau bertiga meskipun masih relatif muda cukup bisa dibanggakan.

Berikut deskripsi dari ketiga orang juri :

Juri pertama selama 2 tahun pernah melatih TUB dan BB di salah satu SMA di Kota Magelang. Pernah bertugas sebagai Pemimpin Upacara dan meraih juara 2 TUB dan juara 1 BB Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Juri kedua selama 2 tahun pernah melatih TUB dan BB di salah satu SMA di Kota Magelang. Pernah bertugas sebagai Pengibar Bendera dan meraih Juara Umum dan Juara 1 Devile, Juara 1 TUB Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pernah pula melatih TIm Kota Magelang dalam Lomba TUB dan BB TIngkat eks. Karesidenan Kedu.

Salah satu juri merupakan Paskibraka Purwakarta, posisi Pengibar Bendera. Pernah bertugas sebagai Pemimpin Upacara. Lomba yang pernah diikutinya adalah Lomba TUB Tingkat Purwakarta dan meraih Juara 2. Serta pernah melatih TUB dan BB di salah satu SMP selama 1 Tahun.

Ketiganya, menempuh studi SMP juga tidak dikota Magelang. Yaitu di Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung dan Purwakarta.

Apa yang menjadi pertimbangan utama sehingga tetap memilih ketiga orang tersebut sebagai juri?
Tentunya bukan tanpa pertimbangan matang memilih ketiganya. Pertama, mereka memiliki pengalaman melatih dan mengikuti lomba yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Kedua, SMP tidak berasal dari Kota Magelang, Ketiga, idealisme masih tinggi. Keempat, karena mereka juga pernah merasakan latihan sebagai peserta lomba maka pengamatan yang dilakukan juga lebih detail. Kelima, pemberdayaan dan kaderisasi juri.

Jadi, bukan usia biologis yang menjadikan juri menjadi obyektif dan netral. Akan tetapi ‘usia’ dalam ‘menggeluti’ materi lomba, atau dengan kata lain pengalaman juga memberikan pengaruh.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: